Bahaya

Jumat, 18 Juli 2014

Karena yang paling berbahaya adalah ketika kita mulai berbangga diri akan amal yang kita lakukan.

Kita menjadi begitu sombong.
Sebaliknya dari merasa terinspirasi,  orang malah akan muak dengan kita.

Dear Allah,  I am sorry for everything.
I am nothing compared to you and the universe you created.
Let me stay little,  but still proud of who i am.
Let me inspire people,  instead of bugging them. 
Let me become closer to you, so I don't need to seek recognition from anyone else. 

La ilaa hailallah

Penggiringan Opini Publik

Selasa, 15 Juli 2014

Entah siapa yang sms, yang pasti ini adalah salah satu upaya penggiringan opini publik.

I'm so sorry

i am so lame.
i am sorry.

Messy room

Sabtu, 12 Juli 2014

I just can't make it neat enough.

Friend

Kamis, 10 Juli 2014

I hang out with my friend today, and it stressed me out.
Perhaps I'm not that kind of person who's suitable for social interaction.
I tried my best to please the one I was hanging out with, but she didn't respond in the positive way.
We just didn't click that well.

I'm sorry, pal.
I couldn't serve you well though I really wanted to.

Election Day

Selasa, 08 Juli 2014

Today is Indonesia's president election day.
Jokowi or Prabowo?
Aku rasa jokowi bakalan unggul.
Indonesia bukan tempat yang disesaki orang-orang berduit.
Tanah ini masih milik pribumi terjajah.
Entah oleh bangsa asing,  etnis cina,  atau bangsanya sendiri.
Kalau sudah begini,  memilih pemimpin bukan persoalan sederhana.

Jokowi sendiri,  dia nampak seperti salah satu dari kami. 
Kemeja sederhana,  perawakan sederhana,  walau ya,  siapalah yang tahu kalau dia ternyata juga eksportir mebel yang kaya raya loh jinawi.
Saking hausnya,  dan kangennya kami semua dengan pemimpin yang sekiranya dapat memahami perasaan kami orang-orang yang tak punya duit,  kami tidak mau peduli lagi soal itu.

Yang penting itu ya Jokowi.
Yang penting itu ya pria yang sederhana itu.
Yang penting itu ya dia.
Entah apa yang nanti akan ia lakukan.
Hati kami akan tenang kalau dia yang memimpin kami.
Dia pasti akan memahami kami.
Dia harus memahami kami.

Siapakah yang egois?
Kami.
Bukan,  kami hanya kehausan.
Maaf Pak Jokowi,  maaf Pak Prabowo,  saya rasa bangsa Indonesia tidak sedang dalam mood untuk berpikir panjang saat ini.
Kami sedang butuh harapan.

Well,  hari ini aku memilih Jokowi.
Sepertinya aku telah jadi salah satu dari mereka yang kehausan.
Sekarang tiba waktunya berharap.

Sorry

I'm sorry if I do no good.
Nobody should ever befriend me.
I truly understand, that no one should ever befriend me.
No one.

Maybe

Senin, 07 Juli 2014

Aku sempat marah kemarin.
Apakah dia sedang mempermainkan aku?
Apakah dia sedang berusaha membuang salam yang susah payah kusampaikan untuknya?
Sialan.
Kenapa juga aku harus menganggapnya penting?
Bodo lah.
Buang saja aku,  aku tidak mau lagi buang-buang perih seperti yang sudah-sudah.

Aku mencintai diabukan kamu.

Hei,  kapan aku bilang begitu?

Aku masih mencintai diadan aku tidak yakin akan datang padamu dalam waktu dekat ini.

Hei,  hei,  itukah yang kukatakan padanya?
Sungguh aku tidak bermaksud.
Dia pastilah paham sedang dalam situasi apa aku ini. 

Tidak heran dia marah. Berhentilah menyalahkan dirimuLihatlah betapa dia juga tengah kesakitan.

Ya,  ya,  aku tahu.
Aku tahu.
Akankah kau memaafkanku?
Oh,  rasa dan hati,  dada dan degupnya,  beri ku waktu untuk berdoa.
Demi rasa,  awan dan semua.

Lupa

Minggu, 06 Juli 2014

Aku takut kisah laluku berulang lagi.
Perihnya mengharap,  perihnya menunggu,  aku tidak mau lagi.
Sempat kukira kalau kita mau menanti,  maka yang baik akan datang menghampiri. 

Ah,  betapa bodohnya...
Aku tidak juga belajar dari kesalahan yang telah jadi realita.

Jadi,  sekarang aku harus bagaimana?
Menertawakan semua seolah semua bukanlah petaka?
Ini hanya persoalan melupa dan terlupa,  jawabnya.
Tidak perlu berpura-pura terluka.

[Draft] Retrouvailles Chapt 1

Minggu, 15 Juni 2014
1


“Anindya Graham.” Lana, membacakan nama yang tertulis di atas kertas kecil yang dipegangnya. “Itu nama temen sekamar lo.”
            Aku membaca nama itu berulang kali di dalam kepalaku. Nggak tau kenapa, ada yang terasa janggal.
            Anindya Graham. Anindya Graham.
            Sambil terkikik aku menimpali.“Kayak nama gigi ya, Lan.”
            Lana tertawa. “Bener, bener. Lo bener!”
            “Orangnya kayak apa ya?”
            “Kalo dari namanya sih ya, mungkin bule, cantik, tinggi. Nggak kuntet keriting macem lo.”
            Aku hanya mendengus, lalu memutar kembali nama itu di dalam kepalaku. Aku seperti pernah dengar, tapi di mana?
            “Duh, padahal gue pengennya sekamar sama lo, Lan. Ini si Anindya ini udah ada?”
            Lana menggeleng. “Belum. Dia juga penghuni baru kok. Kayaknya dia booking kamarnya cuma lewat telepon, jadi gue belum liat orangnya kayak apa. Nama itu aja hasil gue nyuri denger ibu kos teleponan sama orangnya tadi pagi di dapur kosan. Kayaknya sih besok baru dia dateng. Eh yuk, naik, kamar kita di lantai tiga. Gue bantu bawain tas-tas lo ya? ”
            Aku mengangguk, membiarkan Lana membawa tas jinjingku yang besar, sementara aku menyeret tas dorongku dan menggendong satu tas jinjing lainnya yang agak kecil.
            Ya, beberapa waktu yang lalu aku memang memutuskan untuk meninggalkan kost-ku yang aman dan damai, menuju kost Lana yang sepertinya sesak dan ramai. Aku sebenarnya cuma ingin satu kost dengan sahabat terdekatku di kampus, Lana. Komunikasi kami berdua pasti akan banyak termudahkan kan? Nggak perlu takut lagi mengerjakan tugas kelompok arsitektur yang selalu menghabiskan waktu semalam suntuk.
Awalnya aku sedikit ragu karena kost Lana ternyata adalah kost campur di mana cewek dan cowok hidup di dalam satu koridor, berderet-deret dan tersusun hingga tiga lantai dengan cat yang serba putih. Orang-orang sampai menjuluki dengan nama “Gedung Putih”. Memang awalnya kost ini ditargetkan untuk pasangan suami istri. Tapi karena kebetulan lokasinya dekat dengan kampusku, target konsumennya jadi meleset.
Sulit dibayangkan betapa rumitnya hidupku kalau aku benar tinggal di tempat ini. Keluar kamar harus pakai pakaian lengkap dan sopan, nggak bisa sembarangan pakai celana kolor, pasti banyak cowok di segala penjuru, belum lagi masalah intip-mengintip mandi. Bah! Repot!
Tapi kemudian Lana bercerita, bahwa gedung kost-nya ini istimewa. Biaya sewanya sangat rasional untuk sebuah gedung tiga lantai, yang tiap lantainya punya sebuah dapur mini, ruang makan kecil dan mesin cuci yang bisa bebas dipakai oleh penghuni kost. Banyak biaya hidup yang bisa dipangkas dengan adanya fasilitas ini.
Lana selalu masak di kost sehari-harinya, dan kalaupun ia lapar malam-malam buta, ia tinggal melangkah ke dapur dan memasak sesuatu. Biaya laundry-pun bisa dipangkas. Tinggal modal satu kantong deterjen, ia sudah bisa mencuci sepuasnya. Ya, mungkin agak sedikit berebut dengan penghuni tujuh belas kamar di lantai itu sih, bahkan masing-masing kamar isinya dua orang.
Ah, peduli amat, yang penting kan murah! Ini cuma soal kesabaran.
“Haaahhh...akhirnya sampe!!” jerit Lana sambil membanting tas jinjingku di lantai, tepat saat kami berhasil mencapai ujung koridor lantai tiga. Capek sih capek, tapi jangan ngawur! Isinya laptop!
“Ehh...lo pikir isinya lemper apa? Ini gue yang bawa dua tas aja santai kok!”
Lana mendengus capek. Tangannya sibuk meraba-raba kantong celananya.“Emang isinya apa? Kunci mana kunci..”
Lana sibuk mencari kunci. Sementara mataku melayang ke seisi koridor lantai tiga. Siang itu koridor benar-benar sepi, makhluk hidup yang berdiri di sana hanya aku dan Lana. Rasanya seperti dua titik asing di lautan serba putih. Cahaya matahari terik menerobos masuk dari jendela besar di pangkal koridor. Silau. Memperlihatkan barisan debu di sepanjang garis cahayanya.
Di antara bias silau itu, aku masih bisa melihat tujuh belas pintu kamar terbentang di depan mataku. Semua pintunya bercat putih tanpa stiker-stiker atau noda apapun melekat, tertutup rapat. Persis rumah sakit. Kenapa sepi sekali? Padahal bayanganku situasinya bakal sangat ramai, penuh asap rokok, penuh cowok bertelanjang dada, dan segala kelakuan jorok cowok yang lainnya. Ternyata aku salah besar. Jangankan cowok, semut pun nggak kelihatan melintas di situ.
“Lan, kok sepi sih? Kata lo kamarnya penuh?”
“Ini kan hari sabtu. Banyak yang pulang kampung.” Gumam Lana. Tangannya berkelana di seputar kantong jaketnya. “Di ujung koridor sana itu ada kamar mandi umum. Di depannya ada tempat cuci. Ada satu mesin cuci di sana. Terus dapurnya ada di sebelah tempat cuci.”
“Terus kamar gue sebelah mana?”
Lana menunjuk sebuah kamar yang paling dekat dengan tempat kami berdiri. “Kamar sebelah kanan ini. Kamar gue pas di seberang kamar lo. Ntar jangan lupa kenalan sama tetangga, ya! Di lantai tiga ini lengkap mulai dari anak kuliahan sampe aki-aki ada semua. Jadi lo kudu sopan, sering-sering bersilaturahmi.”
Aku terkikik geli. “Seriusan? Yang persis di sebelah gue itu anak muda apa aki-aki?”
 “Aki-aki...” Lana agak ogah-ogahan menjawab pertanyaanku yang terakhir. Separuh dirinya masih sibuk merogoh-rogoh seluruh kantong yang melekat di pakaiannya. Beberapa detik kemudian baru matanya berkilat.“Ini dia kuncinya! Buset, kok gue bisa nggak nyadar sih?”
“Oh ya? Di mana nemunya?” Aku cuma sok kaget. Kalo soal kehilangan kunci, udah makanan sehari-hari Lana tuh!
 “Seperti biasa, nyungsep di bagian ternyelip di kantong celana gue. Yuk masuk kamar lo yuk!”
Lana membuka kunci kamarku. Akhirnya pintu putih itu terbuka. Bau debu dan bau cat tercium begitu kental menyengat hidung. Dari baunya saja bisa ditebak sudah berapa lama kamar ini dibiarkan kosong. Bisa jadi banyak laba-laba berkembang biak di sini. Aku sih oke-oke saja, asal bukan makhluk astral saja yang berkembang-biak.
Kalau soal penampilan, kamar ini sekitar limabelas kali lebih bagus dari kost-ku yang lama. Kamar ini luas, walau agak terlihat penuh sesak. Ada dua kasur, dua lemari dan dua meja belajar berdesakan, tertata secara simetris. Seluruh bagiannya begitu putih, mulai dari ubin, tembok, seprai, tirai jendela, hingga plafon. Bahkan furniturenya, yang sebenarnya kayu, dicat dengan warna putih. Begitu aku melihat cahaya terik siang hari menerobos masuk lewat jendela, mendadak aku merasa seperti berada di negeri awan atau semacamnya.  Dramatis. Sedikit mistis. Beda jauh dengan kamar Lana yang sudah berubah jadi serba pink. Yang ini jauh lebih berkelas!
Ada noda menguning nampak di beberapa bagian plafon, ya, aku memang sudah diperingatkan kalau kamar ini punya penyakit bocor menahun yang tak terobati. Begitu mendengar kamar ini akhirnya disewakan setengah harga, tanpa pikir panjang aku langsung mengurus kepindahan kost. Belum pernah ada kamar kosong di tempat ini sejak tiga tahun lalu! Bodo amat soal bocor. Tinggal taruh ember beres kan?
Beruntung ada orang yang sama nggak pedulinya denganku soal kamar bocor. Cuma dua hari berselang sejak aku bilang pada pemilik kost bahwa aku ingin menyewa kamar ini, aku langsung dikabari ada mahasiswi yang mau menyewa juga. Sudah setengah harga, masih di-setengahin sekali lagi. Apalagi kalau bukan rejeki nomplok? Aku sih setuju-setuju saja hidup sekamar dengan orang lain. Berdoa saja dia bukan orang yang macam-macam. Tapi mendengar namanya, Anindya Graham, bayanganku dia cewek yang “fancy” dan gaul, bahkan mungkin keturunan Indo. Beda denganku yang datar, normal, keriting, dan agak pendek. Aku jadi takut.
Lana menyerbu masuk dan membanting tas jinjingku sekali lagi di salah satu kasur. “Capeknyaaaa....” Lana menjatuhkan tubuhnya.  “Masuk gih..”
Aku menyusul, menyeret masuk tas dorongku dan menemukan diriku berdiri di tengah-tengah ruang putih yang benar-benar putih. Kuputuskan untuk melupakan saja noda bocor di plafon, atau tentang seperti apa wujud Anindya Graham. Anggap saja semua putih!
This is epic! This is my white room!
“Makasih ya Lan, lo udah bantuin gue urus pindahan gue mulai dari cari kamar sampe bener-bener nempatin kamarnya. Makasih banget! Abis ini gue traktir sushi deh!”
“Alah nggak perlu...” timpal Lana sok cool. “That’s what friends are for!


***

I'll start working on Retrouvailles!

Retrouvailles?
You may never heard of it.
Well, it is actually one of my "impromptu" story that has been occupying my mind for the last few years.

Sebenarnya Retrouvailles ini bukan cerita yang bagus, sarat makna atau earth-shattering karena, maaf yaaaaa, saya membuat cerita ini tidak dimulai dari bikin kerangka, character development, perhitungan alur atau semacamnya :(
Cerita ini murni muncul bersamaan dengan gerak jari saya saat mengetik di atas laptop.
Sesungguhnya ini adalah cara yang benar-benar-teramat-sangat tidak direkomendasikan.
Karena apa? Cerita kamu kemungkinan besar akan jadi berantakan, ke mana-mana dan tidak berbobot.
Ada pengaruh yang datangnya dari pikiran gila kamu, ada yang dari sinetron yang barusan kamu tonton, ada juga yang datangnya tanpa alasan.
Tau cerita sinetron? Ya, kurang lebih semacam itu.
Majuuuu aja. Nggak ada twist atau sesuatu apapun yang mampu mengejutkan pembaca di akhir cerita.
Saat saya iseng menceritakan isi cerita Retrouvailles kepada orang terdekat saya, dia pun terbahak.
Katanya, cerita ini terlalu menggelikan. Dia pun menuding cara saya menulis yang memang kurang benar.
Dia ada benarnya.
Bukan,
Dia benar!
Tapi sungguh, bagi saya, bikin novel ngawur (atau bahasa agak kerennya, novel impromptu) adalah cara paling jitu untuk melepas stres.
Tidak bolehkah seseorang menulis cerita untuk melepas stres?
Ya boleh, kata teman saya, tapi tidak untuk dijual atau dibaca orang. 
Kau merenggut waktu mereka yang berharga untuk membaca sampah yang kau tulis. 
Sudah begitu, kau rebut pula uang mereka. 
Dia ada benarnya.
Bukan,
Dia benar!

Setelah beberapa kali membaca ulang Retrouvailles, saya mulai sadar betapa novel satu ini tidak layak baca apalagi diterbitkan.
Tapi, yah, mengingat halamannya sudah cukup banyak, dan saya cukup sedih melihatnya terpuruk sepi di salah satu dari berjuta tumpukan folder di laptop saya, saya memutuskan untuk segera mendandaninya dan menawarkannya kepada siapapun yang bersedia meminangnya lewat penyedia self-publishing yang akan saya kabari secepatnya bila novel benar-benar sudah jadi.
Siapapun itu peminangnya, saya tidak mengharap lebih darinya.
Saya tidak bisa memaksanya untuk meminang seseorang yang tidak punya apa-apa.
Cantik tidak, kaya pun tidak.
Dia hanya ada.
Such a sad existence, I know, but it's even sadder if I just threw it in the garbage.

Errr..mulai dari yang mana ya?
Saya takut kalian mulai tidak menyukai saya.
Saya adalah seseorang yang berniat menjajakan novel hasil dari sampah pikirannya yang kacau.
Saya benar-benar minta maaf.
:(

Oke, sebelumnya saya akan bahas Retrouvailles secara singkat saja (karena kaki saya mulai digigiti nyamuk, dan sudah hampir pukul 1 dini hari).
Retrouvailles adalah bahasa perancis yang artinya perasaan senang saat bertemu seseorang setelah sekian lama. 
Cerita ini nantinya berjalan dari sudut pandang seorang mahasiswa perempuan jurusan arsitektur yang pada akhirnya terlibat sebuah retrouvailles dengan teman sekamarnya di kost. Cewek ini namanya Alexa.
Untuk cerita selanjutnya, you must read it for yourselves! ;)

Saya akan post chapter demi chapternya, tapi begitu cerita udah 100% dibenahi dan siap terbit via self-publisher, akan saya kabarin.
Wismilak gaiss! ;D


Can't

Sabtu, 14 Juni 2014
I'm so lost.
My head hurts.
Dear God...
I...
I don't even know what to say.
I really need a way out.
I want this to end.
I may need to go to a psychiatrist.
But that'll make me a lot weirder.
The psychiatrist might think I'm just exaggerating.
I can't think anymore.
There's too much problem.

Understanding God 101

Jumat, 30 Mei 2014
today I realize, someone faraway can actually be closer than anyone who's actually close. to be close doesn't mean to touch. to love, doesn't mean to hold hands. to talk, doesn't mean to spit out words. and it relates to the understanding about god. 

Tweets

Selasa, 27 Mei 2014
I like Lorde's whole album, except Biting Down and Million Dollar Bills. This is the first time I felt like this since Jason Mraz. (Sorry Graham Coxon, I absolutely like your music, but your voice makes me cringe sometimes) 

When people say they hate me

Senin, 26 Mei 2014

Tiredy

I'm very tired of believing in God.
I need some moment to believe in myself.
Then I'll return to God once I can get rid of this huge disappointment.
I really need a help.
Really really need one.

Sorry

Kamis, 22 Mei 2014
Today I made a mistake again.
I'm really truly sorry.
I don't deserve being loved, I know.
You can leave if you want.
I'll be here myself.
It's nice here.
Very nice.

I can go wherever I want to.
I do not need to impress anyone.
It's very satisfying.
Imagine a cup of starbucks and another cup of perfect silence.
It'll be a nice date between me and my stories.

I am too weird to live in this place.
I can't understand the way they think and the way they talk.
It's definitely different from what I do.
Sorry.
I allow all of you to hate me.
I will live for myself from now on.

Cheer up, Alice! ^_^


Dear Allah

Hari ini aku ada di masjid.
Jujur aja, tadi sehabis solat, trus nempel di atas ubin, rasanya sejuk.
Seperti megang tangan Tuhan.
Sejuk.
Allah, adakah kau di sana?
Kenapa di sini sepi sekali?
Allah, apakau engkau melihatku?
Aku butuh bantuan.
Aku nggak tahu lagi harus percaya kepada siapa, atau apa lagi.
Tolonglah aku.
Maafkan aku karena sempat marah padamu.
Aku memang selalu salah, aku juga nggak tahu harus gimana.
Maafkanlah aku.
Berilah aku kesempatan untuk mengenalmu.
Rasanya sepi kalau aku terus menerus menganggapmu nggak ada.
Sepi sekali.
Semoga aku nggak berhalusinasi.
Tapi sungguh, aku ingin percaya lagi.

Tweet

Rabu, 21 Mei 2014
I have a question. 
If people hate us? Should we care?

*this is supposed to be a tweet, but I hold it up and post it here instead.
Anyway I'm being serious.
Should we care?
I'm going to think about this and write it when I already have the answer. 

Tobi


I've been thinking about this guy for a few days now. 
Guess who?
If you read Naruto, you'll know who is Tobi.
Technically, Tobi itu bukan Tobi.
Tapi aku mau ngebahas Tobi dari sudut pandang yang memandang Tobi itu Tobi (errr.....)

Yang menarik dari Tobi adalah, dia itu satu-satunya anggota Akatsuki yang rada idiot, bego dan nggak waras. Ada kesenengan tersendiri kalo dia udah mulai bertingkah di depannya Deidara.
Lucu, bego, rada idiot, tapi menarik.
Setiap kali ada pertarungan, berharap banget Tobi akhirnya berbuat sesuatu.
Tobi become one of my highly anticipated character in Naruto.
Siapa sangka dia ternyata one of the most powerful member di Akatsuki.
Bahkan kalo dia mau, dia bisa aja menggal kepala Deidara dengan satu tangan. Tapi nyatanya dia malah bertingkah geje gitula kalo sama Deidara. 
Sampe-sampe ada semacam jargon tentang Tobi yang ngomong "Tobi is a good boy."
Aku nggak begitu bisa mendeksripsikan karakternya dengan baik, soalnya juga cuma nyuplik nyuplik dari youtube dan iseng baca komik yang kebetulan keluar Tobinya. 
Dulu sih sempat koleksi komiknya, tapi entah kenapa terus berhenti, males lantaran ceritanya ke mana-mana gak kelar-kelar pulak.
Tapi yang jelas, "Tobi is a good boy" itu lebih ke mendeskripsikan karakternya Tobi yang agak cengoh, childish dan innocent.
Oke, jadi kesimpulannya dia ini:
(berlagak) bego, cengoh, childish dan hobi banget ngeledekin Deidara. Mirip kaya Naruto lah cengohnya, tapi lebih parah. Bukannya ngebenci dia sebagai salah satu anggota Akatsuki yang notabene adalah penjahat, malah sebaliknya, pengen meluk. Abis lucu (>_<) sini sini sama Tante. Siapa sangka kalo ternyata Tobi itu punya masa lalu yang amat sangat menyedihkan dan bikin pengen gigit jari kalo ngebacanya.
Dia berlagak idiot begitu untuk menutupi siapa dirinya sebenarnya.

Coba liat gambar ini, aku dapet dari deviantART, yang bikin namanya Novanator (minjem gambarnya ya om...)

Nah, karakter Tobi yang menarik ini pengen banget aku angkat ke salah satu ide novelku (yang kebetulan masih ada di kepala). 
Kalau ada kesempatan, bakal aku tulis dan kuposting di sini. 

Om Kishimoto, jangan marah ya kalo aku pinjem karakternya :D

Wednesday, 21st May 2014

Selasa, 20 Mei 2014
Good morning.
I think I'm in a very bad mood today.
I frequently tweets in my personal twitter account.
And suddenly someone tweeted yesterday: "This person is so silent in person. I wonder why he/she is talking too much in social media -.- "
Well, she didn't literally said it was me, but... who else?

I was shocked.
I am so silent around those people, I know.
Is it so wrong if I put myself into words?
Mistakes again... mistakes again...

Why is it so hard to become a normal person?
Why is it so hard to like those jerks?
I'm done.
I don't care about this crappy little society anymore.

Dear God, I want to get out and start a new life. 
Bring me to London, or anywhere.

Introduction

Senin, 19 Mei 2014
Hi, people.
My name is Alice. 
And I am so alone.
Don't laugh, but I really am so alone.
I hate myself most of the times.
And I'm not brave enough to get out there and tell people I am here.

I spend most of my times working in front of computer and browsing the internet.
My only best friend is internet. Well, I have a boyfriend, who loves me way more than I do.
But lately I became disappointed by his existence too. Not that something's wrong with him, No. It's me. I have a shitload of stuff that will make me the wrong one.
He's okay with that, but sometimes he's not.
And when he's not okay, I feel like I'm supposed to die instead of bugging him all the time.
See? I'm not good enough for those people. Even with someone who loves me, I'm not good enough.
I cannot demand him to be okay with my mistakes though.
So, sometimes I think I'd better go away.
Will I be more alone that way?
To be honest, it's horrible being alone. Your mind talks too much to yourself, since you don't have anyone else to talk to beside yourself.
And when my mind is talking, it's talking about something horribly negative most of the times.
 I am weird.
I look stupid.
I don't deserve any friend.
And on top of all that, I am fucking weird. My mind works in a weird way, I dress myself in a weird way, and I act weirdly.

What makes me weird?
First of all, I am insomniac. I've fixed it a few times already in my lifetime, but when something huge comes in and make a mega earthquake in my mind, I gain the insomnia again. It's not a bad habit. It's more like a curse, a nightmare.  I can tame it, yes, which is one great thing I'm so proud about.
To tame it doesn't mean to cure it. Which means, it can come out sometimes. I'll go crazy for like 20-30 days before I can put it in the cage again. I'll get better in taming it, don't worry.

Second, I think I am depressed. I don't know for sure, since I don't have enough money to pay for psychiatric service (which is very expensive in Indonesia). I self-diagnosed myself about last year (which is not right). Since I checked almost 80% of depression checklist in an online diagnostic service, and some other proofs, I began to believe I have depression. All this feeling of constant sadness, anxieties, feeling like I don't belong anywhere, is actually a product of another beast that's dwelling in my brain. It's not entirely my fault. (Or is it just a blasphemy?)
During my time of realizing this in the first months, it was absolutely horrible.
I really can't think.
My mind is so foggy I can't even live in the moment anymore.
I sit in my room but my mind wanders around to another universe.
I should've been there instead of being here. I should've been doing this instead of doing that.
Why am I such a failure? I should've disappeared instead of bugging those people. 
It's so horrible, you know, no one deserves to live this way. 
I read and read and try to tame this beast.
I haven't really succeeded yet but it's getting better after about a year.
I learned about meditation, deep breathing, and all.
The only problem is, my mind is still so foggy. I keep making bad marks in my college because I really can't focus doing things.
I used to be good in doing college assignments, but not anymore.
I used to be a good reader, but not anymore.
I used to be the class clown, but not anymore (more like the antisocial one).
 I'll get better in taming it, don't worry. I just have to have an extra work in the foggy-mind stuff.
Sometimes I mixed up between depression, anxiety, and ADHD.
I really need psychiatric advice, but well, in Indonesia, only mad people goes to asylum. 
I'm not mad, you know, I'm not singing around or laughing for no reason. I take a bath regularly and I behave really well along people. I can actually be really nice to them (if they allow me to be their friends).

Oh, one more thing about depression. I used to be able to control my dream and enjoy it in my own way. Some people call it lucid dreaming. But when I read about lucid dream experiences, my dreams aren't really like the one they're describing. It simply happens, and I can control it.
But since I tried really heard to push my mind to stop wandering around (to control depression), I unconsciously stopped my ability to "lucid dream".
That's not really sad, but sad.
I don't know, but I think wandering mind has something to do with dreaming.
I'll figure it out later (and I must tell you. because it's wicked)

Okay, third (and this post is getting too long)
I have social anxiety.
Which means, you avoid people because you're uncomfortable with that.
This happens ever since people get really irritated about my mistakes and weirdness. My best friends left me. And I misfit everyone in the class.
This is partly a cure, partly a blessing.
I have much time to think about myself, to date myself, and finally realize I am a very bad person.
I'm on my way of fixing things up.  
And the most beautiful part is, I have time for my mind to wander around and realize that:

I was too self-centered. I was too perfect until I became too proud of myself.
I never really try to understand people. All I thought about was whether I will academically surpass that person or not. 
Well, after all this happens,
I'll befriend every lonely, misfits, bullied, depressed, and weird people, and tell them it's okay being like that and I don't mind seeing them being that way.
All they (and me) need is only acceptance from people around them.
It's okay to be weird, IT'S FUCKING OKAY. 

(Did I just talk to myself? Well, technically, I'm talking to myself since it's only a blog post of a lonely blog and no one would read or take a big deal of it)

So..
yeah.
I'm here to tell you that in order to tame my mind who is talking vigorously now,
I'm going to write.
Yep, I'm a writer since I'm in kindergarten but I never really produce anything.
I mainly focused on writing romance but sometimes my imagination is uncontrollable.
So, it's gonna be various random thing.

Errr...by the way. Thanks to anyone who is kind enough to drop by.
You can always email me on: alicebisque@gmail.com
I'm always online. Not all the time, but most of the time.
Thank you very much.

Sincerely,
Alice Bisque.