[Draft] Retrouvailles Chapt 1

Minggu, 15 Juni 2014
1


“Anindya Graham.” Lana, membacakan nama yang tertulis di atas kertas kecil yang dipegangnya. “Itu nama temen sekamar lo.”
            Aku membaca nama itu berulang kali di dalam kepalaku. Nggak tau kenapa, ada yang terasa janggal.
            Anindya Graham. Anindya Graham.
            Sambil terkikik aku menimpali.“Kayak nama gigi ya, Lan.”
            Lana tertawa. “Bener, bener. Lo bener!”
            “Orangnya kayak apa ya?”
            “Kalo dari namanya sih ya, mungkin bule, cantik, tinggi. Nggak kuntet keriting macem lo.”
            Aku hanya mendengus, lalu memutar kembali nama itu di dalam kepalaku. Aku seperti pernah dengar, tapi di mana?
            “Duh, padahal gue pengennya sekamar sama lo, Lan. Ini si Anindya ini udah ada?”
            Lana menggeleng. “Belum. Dia juga penghuni baru kok. Kayaknya dia booking kamarnya cuma lewat telepon, jadi gue belum liat orangnya kayak apa. Nama itu aja hasil gue nyuri denger ibu kos teleponan sama orangnya tadi pagi di dapur kosan. Kayaknya sih besok baru dia dateng. Eh yuk, naik, kamar kita di lantai tiga. Gue bantu bawain tas-tas lo ya? ”
            Aku mengangguk, membiarkan Lana membawa tas jinjingku yang besar, sementara aku menyeret tas dorongku dan menggendong satu tas jinjing lainnya yang agak kecil.
            Ya, beberapa waktu yang lalu aku memang memutuskan untuk meninggalkan kost-ku yang aman dan damai, menuju kost Lana yang sepertinya sesak dan ramai. Aku sebenarnya cuma ingin satu kost dengan sahabat terdekatku di kampus, Lana. Komunikasi kami berdua pasti akan banyak termudahkan kan? Nggak perlu takut lagi mengerjakan tugas kelompok arsitektur yang selalu menghabiskan waktu semalam suntuk.
Awalnya aku sedikit ragu karena kost Lana ternyata adalah kost campur di mana cewek dan cowok hidup di dalam satu koridor, berderet-deret dan tersusun hingga tiga lantai dengan cat yang serba putih. Orang-orang sampai menjuluki dengan nama “Gedung Putih”. Memang awalnya kost ini ditargetkan untuk pasangan suami istri. Tapi karena kebetulan lokasinya dekat dengan kampusku, target konsumennya jadi meleset.
Sulit dibayangkan betapa rumitnya hidupku kalau aku benar tinggal di tempat ini. Keluar kamar harus pakai pakaian lengkap dan sopan, nggak bisa sembarangan pakai celana kolor, pasti banyak cowok di segala penjuru, belum lagi masalah intip-mengintip mandi. Bah! Repot!
Tapi kemudian Lana bercerita, bahwa gedung kost-nya ini istimewa. Biaya sewanya sangat rasional untuk sebuah gedung tiga lantai, yang tiap lantainya punya sebuah dapur mini, ruang makan kecil dan mesin cuci yang bisa bebas dipakai oleh penghuni kost. Banyak biaya hidup yang bisa dipangkas dengan adanya fasilitas ini.
Lana selalu masak di kost sehari-harinya, dan kalaupun ia lapar malam-malam buta, ia tinggal melangkah ke dapur dan memasak sesuatu. Biaya laundry-pun bisa dipangkas. Tinggal modal satu kantong deterjen, ia sudah bisa mencuci sepuasnya. Ya, mungkin agak sedikit berebut dengan penghuni tujuh belas kamar di lantai itu sih, bahkan masing-masing kamar isinya dua orang.
Ah, peduli amat, yang penting kan murah! Ini cuma soal kesabaran.
“Haaahhh...akhirnya sampe!!” jerit Lana sambil membanting tas jinjingku di lantai, tepat saat kami berhasil mencapai ujung koridor lantai tiga. Capek sih capek, tapi jangan ngawur! Isinya laptop!
“Ehh...lo pikir isinya lemper apa? Ini gue yang bawa dua tas aja santai kok!”
Lana mendengus capek. Tangannya sibuk meraba-raba kantong celananya.“Emang isinya apa? Kunci mana kunci..”
Lana sibuk mencari kunci. Sementara mataku melayang ke seisi koridor lantai tiga. Siang itu koridor benar-benar sepi, makhluk hidup yang berdiri di sana hanya aku dan Lana. Rasanya seperti dua titik asing di lautan serba putih. Cahaya matahari terik menerobos masuk dari jendela besar di pangkal koridor. Silau. Memperlihatkan barisan debu di sepanjang garis cahayanya.
Di antara bias silau itu, aku masih bisa melihat tujuh belas pintu kamar terbentang di depan mataku. Semua pintunya bercat putih tanpa stiker-stiker atau noda apapun melekat, tertutup rapat. Persis rumah sakit. Kenapa sepi sekali? Padahal bayanganku situasinya bakal sangat ramai, penuh asap rokok, penuh cowok bertelanjang dada, dan segala kelakuan jorok cowok yang lainnya. Ternyata aku salah besar. Jangankan cowok, semut pun nggak kelihatan melintas di situ.
“Lan, kok sepi sih? Kata lo kamarnya penuh?”
“Ini kan hari sabtu. Banyak yang pulang kampung.” Gumam Lana. Tangannya berkelana di seputar kantong jaketnya. “Di ujung koridor sana itu ada kamar mandi umum. Di depannya ada tempat cuci. Ada satu mesin cuci di sana. Terus dapurnya ada di sebelah tempat cuci.”
“Terus kamar gue sebelah mana?”
Lana menunjuk sebuah kamar yang paling dekat dengan tempat kami berdiri. “Kamar sebelah kanan ini. Kamar gue pas di seberang kamar lo. Ntar jangan lupa kenalan sama tetangga, ya! Di lantai tiga ini lengkap mulai dari anak kuliahan sampe aki-aki ada semua. Jadi lo kudu sopan, sering-sering bersilaturahmi.”
Aku terkikik geli. “Seriusan? Yang persis di sebelah gue itu anak muda apa aki-aki?”
 “Aki-aki...” Lana agak ogah-ogahan menjawab pertanyaanku yang terakhir. Separuh dirinya masih sibuk merogoh-rogoh seluruh kantong yang melekat di pakaiannya. Beberapa detik kemudian baru matanya berkilat.“Ini dia kuncinya! Buset, kok gue bisa nggak nyadar sih?”
“Oh ya? Di mana nemunya?” Aku cuma sok kaget. Kalo soal kehilangan kunci, udah makanan sehari-hari Lana tuh!
 “Seperti biasa, nyungsep di bagian ternyelip di kantong celana gue. Yuk masuk kamar lo yuk!”
Lana membuka kunci kamarku. Akhirnya pintu putih itu terbuka. Bau debu dan bau cat tercium begitu kental menyengat hidung. Dari baunya saja bisa ditebak sudah berapa lama kamar ini dibiarkan kosong. Bisa jadi banyak laba-laba berkembang biak di sini. Aku sih oke-oke saja, asal bukan makhluk astral saja yang berkembang-biak.
Kalau soal penampilan, kamar ini sekitar limabelas kali lebih bagus dari kost-ku yang lama. Kamar ini luas, walau agak terlihat penuh sesak. Ada dua kasur, dua lemari dan dua meja belajar berdesakan, tertata secara simetris. Seluruh bagiannya begitu putih, mulai dari ubin, tembok, seprai, tirai jendela, hingga plafon. Bahkan furniturenya, yang sebenarnya kayu, dicat dengan warna putih. Begitu aku melihat cahaya terik siang hari menerobos masuk lewat jendela, mendadak aku merasa seperti berada di negeri awan atau semacamnya.  Dramatis. Sedikit mistis. Beda jauh dengan kamar Lana yang sudah berubah jadi serba pink. Yang ini jauh lebih berkelas!
Ada noda menguning nampak di beberapa bagian plafon, ya, aku memang sudah diperingatkan kalau kamar ini punya penyakit bocor menahun yang tak terobati. Begitu mendengar kamar ini akhirnya disewakan setengah harga, tanpa pikir panjang aku langsung mengurus kepindahan kost. Belum pernah ada kamar kosong di tempat ini sejak tiga tahun lalu! Bodo amat soal bocor. Tinggal taruh ember beres kan?
Beruntung ada orang yang sama nggak pedulinya denganku soal kamar bocor. Cuma dua hari berselang sejak aku bilang pada pemilik kost bahwa aku ingin menyewa kamar ini, aku langsung dikabari ada mahasiswi yang mau menyewa juga. Sudah setengah harga, masih di-setengahin sekali lagi. Apalagi kalau bukan rejeki nomplok? Aku sih setuju-setuju saja hidup sekamar dengan orang lain. Berdoa saja dia bukan orang yang macam-macam. Tapi mendengar namanya, Anindya Graham, bayanganku dia cewek yang “fancy” dan gaul, bahkan mungkin keturunan Indo. Beda denganku yang datar, normal, keriting, dan agak pendek. Aku jadi takut.
Lana menyerbu masuk dan membanting tas jinjingku sekali lagi di salah satu kasur. “Capeknyaaaa....” Lana menjatuhkan tubuhnya.  “Masuk gih..”
Aku menyusul, menyeret masuk tas dorongku dan menemukan diriku berdiri di tengah-tengah ruang putih yang benar-benar putih. Kuputuskan untuk melupakan saja noda bocor di plafon, atau tentang seperti apa wujud Anindya Graham. Anggap saja semua putih!
This is epic! This is my white room!
“Makasih ya Lan, lo udah bantuin gue urus pindahan gue mulai dari cari kamar sampe bener-bener nempatin kamarnya. Makasih banget! Abis ini gue traktir sushi deh!”
“Alah nggak perlu...” timpal Lana sok cool. “That’s what friends are for!


***

I'll start working on Retrouvailles!

Retrouvailles?
You may never heard of it.
Well, it is actually one of my "impromptu" story that has been occupying my mind for the last few years.

Sebenarnya Retrouvailles ini bukan cerita yang bagus, sarat makna atau earth-shattering karena, maaf yaaaaa, saya membuat cerita ini tidak dimulai dari bikin kerangka, character development, perhitungan alur atau semacamnya :(
Cerita ini murni muncul bersamaan dengan gerak jari saya saat mengetik di atas laptop.
Sesungguhnya ini adalah cara yang benar-benar-teramat-sangat tidak direkomendasikan.
Karena apa? Cerita kamu kemungkinan besar akan jadi berantakan, ke mana-mana dan tidak berbobot.
Ada pengaruh yang datangnya dari pikiran gila kamu, ada yang dari sinetron yang barusan kamu tonton, ada juga yang datangnya tanpa alasan.
Tau cerita sinetron? Ya, kurang lebih semacam itu.
Majuuuu aja. Nggak ada twist atau sesuatu apapun yang mampu mengejutkan pembaca di akhir cerita.
Saat saya iseng menceritakan isi cerita Retrouvailles kepada orang terdekat saya, dia pun terbahak.
Katanya, cerita ini terlalu menggelikan. Dia pun menuding cara saya menulis yang memang kurang benar.
Dia ada benarnya.
Bukan,
Dia benar!
Tapi sungguh, bagi saya, bikin novel ngawur (atau bahasa agak kerennya, novel impromptu) adalah cara paling jitu untuk melepas stres.
Tidak bolehkah seseorang menulis cerita untuk melepas stres?
Ya boleh, kata teman saya, tapi tidak untuk dijual atau dibaca orang. 
Kau merenggut waktu mereka yang berharga untuk membaca sampah yang kau tulis. 
Sudah begitu, kau rebut pula uang mereka. 
Dia ada benarnya.
Bukan,
Dia benar!

Setelah beberapa kali membaca ulang Retrouvailles, saya mulai sadar betapa novel satu ini tidak layak baca apalagi diterbitkan.
Tapi, yah, mengingat halamannya sudah cukup banyak, dan saya cukup sedih melihatnya terpuruk sepi di salah satu dari berjuta tumpukan folder di laptop saya, saya memutuskan untuk segera mendandaninya dan menawarkannya kepada siapapun yang bersedia meminangnya lewat penyedia self-publishing yang akan saya kabari secepatnya bila novel benar-benar sudah jadi.
Siapapun itu peminangnya, saya tidak mengharap lebih darinya.
Saya tidak bisa memaksanya untuk meminang seseorang yang tidak punya apa-apa.
Cantik tidak, kaya pun tidak.
Dia hanya ada.
Such a sad existence, I know, but it's even sadder if I just threw it in the garbage.

Errr..mulai dari yang mana ya?
Saya takut kalian mulai tidak menyukai saya.
Saya adalah seseorang yang berniat menjajakan novel hasil dari sampah pikirannya yang kacau.
Saya benar-benar minta maaf.
:(

Oke, sebelumnya saya akan bahas Retrouvailles secara singkat saja (karena kaki saya mulai digigiti nyamuk, dan sudah hampir pukul 1 dini hari).
Retrouvailles adalah bahasa perancis yang artinya perasaan senang saat bertemu seseorang setelah sekian lama. 
Cerita ini nantinya berjalan dari sudut pandang seorang mahasiswa perempuan jurusan arsitektur yang pada akhirnya terlibat sebuah retrouvailles dengan teman sekamarnya di kost. Cewek ini namanya Alexa.
Untuk cerita selanjutnya, you must read it for yourselves! ;)

Saya akan post chapter demi chapternya, tapi begitu cerita udah 100% dibenahi dan siap terbit via self-publisher, akan saya kabarin.
Wismilak gaiss! ;D


Can't

Sabtu, 14 Juni 2014
I'm so lost.
My head hurts.
Dear God...
I...
I don't even know what to say.
I really need a way out.
I want this to end.
I may need to go to a psychiatrist.
But that'll make me a lot weirder.
The psychiatrist might think I'm just exaggerating.
I can't think anymore.
There's too much problem.