1
“Anindya
Graham.” Lana, membacakan nama yang tertulis di atas kertas kecil yang
dipegangnya. “Itu nama temen sekamar lo.”
Aku membaca nama itu berulang kali
di dalam kepalaku. Nggak tau kenapa, ada yang terasa janggal.
Anindya Graham. Anindya Graham.
Sambil terkikik aku menimpali.“Kayak
nama gigi ya, Lan.”
Lana tertawa. “Bener, bener. Lo
bener!”
“Orangnya kayak apa ya?”
“Kalo dari namanya sih ya, mungkin
bule, cantik, tinggi. Nggak kuntet keriting macem lo.”
Aku hanya mendengus, lalu memutar
kembali nama itu di dalam kepalaku. Aku seperti pernah dengar, tapi di mana?
“Duh, padahal gue pengennya sekamar
sama lo, Lan. Ini si Anindya ini udah ada?”
Lana menggeleng. “Belum. Dia juga
penghuni baru kok. Kayaknya dia booking kamarnya cuma lewat telepon, jadi gue
belum liat orangnya kayak apa. Nama itu aja hasil gue nyuri denger ibu kos
teleponan sama orangnya tadi pagi di dapur kosan. Kayaknya sih besok baru dia
dateng. Eh yuk, naik, kamar kita di lantai tiga. Gue bantu bawain tas-tas lo
ya? ”
Aku mengangguk, membiarkan Lana
membawa tas jinjingku yang besar, sementara aku menyeret tas dorongku dan
menggendong satu tas jinjing lainnya yang agak kecil.
Ya, beberapa waktu yang lalu aku
memang memutuskan untuk meninggalkan kost-ku yang aman dan damai, menuju kost
Lana yang sepertinya sesak dan ramai. Aku sebenarnya cuma ingin satu kost
dengan sahabat terdekatku di kampus, Lana. Komunikasi kami berdua pasti akan
banyak termudahkan kan? Nggak perlu takut lagi mengerjakan tugas kelompok
arsitektur yang selalu menghabiskan waktu semalam suntuk.
Awalnya
aku sedikit ragu karena kost Lana ternyata adalah kost campur di mana cewek dan
cowok hidup di dalam satu koridor, berderet-deret dan tersusun hingga tiga
lantai dengan cat yang serba putih. Orang-orang sampai menjuluki dengan nama
“Gedung Putih”. Memang awalnya kost ini ditargetkan untuk pasangan suami istri.
Tapi karena kebetulan lokasinya dekat dengan kampusku, target konsumennya jadi
meleset.
Sulit
dibayangkan betapa rumitnya hidupku kalau aku benar tinggal di tempat ini.
Keluar kamar harus pakai pakaian lengkap dan sopan, nggak bisa sembarangan
pakai celana kolor, pasti banyak cowok di segala penjuru, belum lagi masalah
intip-mengintip mandi. Bah! Repot!
Tapi
kemudian Lana bercerita, bahwa gedung kost-nya ini istimewa. Biaya sewanya
sangat rasional untuk sebuah gedung tiga lantai, yang tiap lantainya punya
sebuah dapur mini, ruang makan kecil dan mesin cuci yang bisa bebas dipakai
oleh penghuni kost. Banyak biaya hidup yang bisa dipangkas dengan adanya
fasilitas ini.
Lana
selalu masak di kost sehari-harinya, dan kalaupun ia lapar malam-malam buta, ia
tinggal melangkah ke dapur dan memasak sesuatu. Biaya laundry-pun bisa
dipangkas. Tinggal modal satu kantong deterjen, ia sudah bisa mencuci
sepuasnya. Ya, mungkin agak sedikit berebut dengan penghuni tujuh belas kamar
di lantai itu sih, bahkan masing-masing kamar isinya dua orang.
Ah,
peduli amat, yang penting kan murah! Ini cuma soal kesabaran.
“Haaahhh...akhirnya
sampe!!” jerit Lana sambil membanting tas jinjingku di lantai, tepat saat kami
berhasil mencapai ujung koridor lantai tiga. Capek sih capek, tapi jangan
ngawur! Isinya laptop!
“Ehh...lo
pikir isinya lemper apa? Ini gue yang bawa dua tas aja santai kok!”
Lana
mendengus capek. Tangannya sibuk meraba-raba kantong celananya.“Emang isinya
apa? Kunci mana kunci..”
Lana
sibuk mencari kunci. Sementara mataku melayang ke seisi koridor lantai tiga.
Siang itu koridor benar-benar sepi, makhluk hidup yang berdiri di sana hanya
aku dan Lana. Rasanya seperti dua titik asing di lautan serba putih. Cahaya
matahari terik menerobos masuk dari jendela besar di pangkal koridor. Silau.
Memperlihatkan barisan debu di sepanjang garis cahayanya.
Di
antara bias silau itu, aku masih bisa melihat tujuh belas pintu kamar
terbentang di depan mataku. Semua pintunya bercat putih tanpa stiker-stiker
atau noda apapun melekat, tertutup rapat. Persis rumah sakit. Kenapa sepi
sekali? Padahal bayanganku situasinya bakal sangat ramai, penuh asap rokok,
penuh cowok bertelanjang dada, dan segala kelakuan jorok cowok yang lainnya.
Ternyata aku salah besar. Jangankan cowok, semut pun nggak kelihatan melintas
di situ.
“Lan,
kok sepi sih? Kata lo kamarnya penuh?”
“Ini
kan hari sabtu. Banyak yang pulang kampung.” Gumam Lana. Tangannya berkelana di
seputar kantong jaketnya. “Di ujung koridor sana itu ada kamar mandi umum. Di
depannya ada tempat cuci. Ada satu mesin cuci di sana. Terus dapurnya ada di
sebelah tempat cuci.”
“Terus
kamar gue sebelah mana?”
Lana
menunjuk sebuah kamar yang paling dekat dengan tempat kami berdiri. “Kamar
sebelah kanan ini. Kamar gue pas di seberang kamar lo. Ntar jangan lupa kenalan
sama tetangga, ya! Di lantai tiga ini lengkap mulai dari anak kuliahan sampe
aki-aki ada semua. Jadi lo kudu sopan, sering-sering bersilaturahmi.”
Aku
terkikik geli. “Seriusan? Yang persis di sebelah gue itu anak muda apa
aki-aki?”
“Aki-aki...” Lana agak ogah-ogahan menjawab
pertanyaanku yang terakhir. Separuh dirinya masih sibuk merogoh-rogoh seluruh
kantong yang melekat di pakaiannya. Beberapa detik kemudian baru matanya
berkilat.“Ini dia kuncinya! Buset, kok gue bisa nggak nyadar sih?”
“Oh
ya? Di mana nemunya?” Aku cuma sok kaget. Kalo soal kehilangan kunci, udah
makanan sehari-hari Lana tuh!
“Seperti biasa, nyungsep di bagian ternyelip
di kantong celana gue. Yuk masuk kamar lo yuk!”
Lana
membuka kunci kamarku. Akhirnya pintu putih itu terbuka. Bau debu dan bau cat
tercium begitu kental menyengat hidung. Dari baunya saja bisa ditebak sudah
berapa lama kamar ini dibiarkan kosong. Bisa jadi banyak laba-laba berkembang
biak di sini. Aku sih oke-oke saja, asal bukan makhluk astral saja yang
berkembang-biak.
Kalau
soal penampilan, kamar ini sekitar limabelas kali lebih bagus dari kost-ku yang
lama. Kamar ini luas, walau agak terlihat penuh sesak. Ada dua kasur, dua
lemari dan dua meja belajar berdesakan, tertata secara simetris. Seluruh
bagiannya begitu putih, mulai dari ubin, tembok, seprai, tirai jendela, hingga
plafon. Bahkan furniturenya, yang sebenarnya kayu, dicat dengan warna putih.
Begitu aku melihat cahaya terik siang hari menerobos masuk lewat jendela,
mendadak aku merasa seperti berada di negeri awan atau semacamnya. Dramatis. Sedikit mistis. Beda jauh dengan
kamar Lana yang sudah berubah jadi serba pink. Yang ini jauh lebih berkelas!
Ada
noda menguning nampak di beberapa bagian plafon, ya, aku memang sudah
diperingatkan kalau kamar ini punya penyakit bocor menahun yang tak terobati.
Begitu mendengar kamar ini akhirnya disewakan setengah harga, tanpa pikir
panjang aku langsung mengurus kepindahan kost. Belum pernah ada kamar kosong di
tempat ini sejak tiga tahun lalu! Bodo amat soal bocor. Tinggal taruh ember
beres kan?
Beruntung
ada orang yang sama nggak pedulinya denganku soal kamar bocor. Cuma dua hari
berselang sejak aku bilang pada pemilik kost bahwa aku ingin menyewa kamar ini,
aku langsung dikabari ada mahasiswi yang mau menyewa juga. Sudah setengah
harga, masih di-setengahin sekali lagi. Apalagi kalau bukan rejeki nomplok? Aku
sih setuju-setuju saja hidup sekamar dengan orang lain. Berdoa saja dia bukan
orang yang macam-macam. Tapi mendengar namanya, Anindya Graham, bayanganku dia
cewek yang “fancy” dan gaul, bahkan mungkin keturunan Indo. Beda denganku yang
datar, normal, keriting, dan agak pendek. Aku jadi takut.
Lana
menyerbu masuk dan membanting tas jinjingku sekali lagi di salah satu kasur.
“Capeknyaaaa....” Lana menjatuhkan tubuhnya.
“Masuk gih..”
Aku
menyusul, menyeret masuk tas dorongku dan menemukan diriku berdiri di
tengah-tengah ruang putih yang benar-benar putih. Kuputuskan untuk melupakan
saja noda bocor di plafon, atau tentang seperti apa wujud Anindya Graham.
Anggap saja semua putih!
This is epic! This is my white
room!
“Makasih
ya Lan, lo udah bantuin gue urus pindahan gue mulai dari cari kamar sampe
bener-bener nempatin kamarnya. Makasih banget! Abis ini gue traktir sushi deh!”
“Alah
nggak perlu...” timpal Lana sok cool. “That’s
what friends are for!”
***
0 komentar:
Posting Komentar