Aku sempat marah kemarin.
Apakah dia sedang mempermainkan aku?
Apakah dia sedang berusaha membuang salam yang susah payah kusampaikan untuknya?
Sialan.
Kenapa juga aku harus menganggapnya penting?
Bodo lah.
Buang saja aku, aku tidak mau lagi buang-buang perih seperti yang sudah-sudah.
Aku mencintai dia, bukan kamu.
Hei, kapan aku bilang begitu?
Aku masih mencintai dia, dan aku tidak yakin akan datang padamu dalam waktu dekat ini.
Hei, hei, itukah yang kukatakan padanya?
Sungguh aku tidak bermaksud.
Dia pastilah paham sedang dalam situasi apa aku ini.
Tidak heran dia marah. Berhentilah menyalahkan dirimu. Lihatlah betapa dia juga tengah kesakitan.
Ya, ya, aku tahu.
Aku tahu.
Akankah kau memaafkanku?
Oh, rasa dan hati, dada dan degupnya, beri ku waktu untuk berdoa.
Demi rasa, awan dan semua.
0 komentar:
Posting Komentar